Tuesday, 11 June 2019

Tuah badan, Isteri Paksa suami untuk berpoligami


Sudah beberapa hari isteri saya merajuk dan bahkan setengah memaksa. Terus-menerus. Tak pernah berhenti. Sepanjang waktu. Siang-malam, pagi-setang; si isteri tak mengenal lelah untuk merajuk dan memaksa. Rajukan dan paksaannya juga bukan main-main. Sangat berat. Maha berat malah. Ia meminta saya untuk melakukan poligami! Menikah lagi! Dengan perempuan lain! 


Saya tidak tahu apa alasan pasti sehingga isteri saya meminta saya berpoligami. Bagi saya, isteri saya adalah wanita yang mendekati sempurna. Ia adalah perpaduan antara Khadijah dan Aisyah, isteri-isteri Nabi Muhammad S.A.W . Di waktu-waktu tertentu, dia begitu berdikari, tabah, dan sifat keibuan sperti Siti Khadijah. Di saat lain, isteri saya mampu bertindak cerdas dan suka bermanja seperti halnya Aisyah. Jadi, buat apa saya berpoligami?

”Poligami bukan buat abang , ”tegas isteri saya. ”Tapi, poligami ini buat saya. Saya ingin masuk surga seperti wanita-wanita lain yang rela dan ikhlas dimadu. Apakah abang tidak senang jika istrinya masuk surga?”



Saya tergamam dengan ketegasan isteri saya. Tapi, saya bukannya senang dengan sikap yang tegas itu. Saya mula takut, ketegasan itu akan membuat isteri saya menyesal di kelak kemudian hari. Apalagi saya memang benar-benar tak ingin berpoligami!

”Dik, poligami itu bukan sesuatu yang mudah. Seorang lelaki yang berniat poligami harus memiliki sikap dan watak yang adil. Apakah aku akan mampu bersikap adil? Rasanya tidak! Cuba kamu fikir dan rasakan, terhadap diri kamu dan anak-anak kita saja saya kerap gagal, apatah lagi terhadap orang lain nanti.”

Saya mulai memberi nasihat kepadanya. Tentu dengan suara yang lembut. Sebab saya yakin ia pasti mau mendengarnya jika saya berbicara lembut.

”Selain adil, aku juga mesti punya pendapatan yang berlebih. mampukah aku cukup kaya untuk membiayai kehidupan dua keluarga. Sebab bagaimana mungkin aku boleh berpoligami sementara pendapatanku tak cukup? Nah, ini yang aku tidak boleh berikan. Untuk membiayai kehidupan kamu dan anak-anak kita saja aku hanya cukup-cukup, bagaimana aku boleh membiayai kehidupan orang lain.”

Isteri saya hanya menganguk tanda setuju. Saya senang dia mulai terpengaruh dengan alasan diberikan oleh saya. 

”Sejak bila abang berubah sikap menjadi seorang penakut? Apakah Islam telah mengajarkan abang untuk menjadi seorang penakut? Saya tidak pernah membayangkan abang begitu ketakutan terhadap poligami. Padahal, kenapa kita takut berpoligami? Apa sebenarnya yang membuat kita ngeri saat hendak melakukan poligami? Takut tidak dapat berbuat adil? Takut tak bisa menafkahi?”

”Dik, aku bukan takut. Tapi, aku rasional…”

”Benar! bang, rasional. Tapi, rasional bedasarkan oleh ketakutan. Kalau abang bercakap dan bertindak atas nama sesuatu, tetapi berdasarkan ketakutan dan kekhawatiran, selamanya abang tak akan pernah bisa jujur terhadap diri sendiri.”

Saya tak mampu melawan kata-kata isteri saya. Hari ini, saya berdebat dengan isteri saya mengenai poligami. Saya bukan hendak minta izin berpoligami tetapi desakan ini dipaksa isteri saya untuk berpoligami.

”Sayang, kata ustaz , poligami itu dapat diibaratkan pintu kecemasan  kapal terbang….”

”Pintu kecemasan yang seperti apa? Kapal terbang jenis apa ?” tambah isteri saya. ”Setahu aku, Al Qur’an tidak pernah mengibaratkan poligami seperti pintu kecemasan kapal terbang. Al Qur’an hanya cakap, kalau mampu bersikap adil, nikahlah dengan dua, tiga, atau empat. Kalau tak mampu cukup satu saja.”

”Itulah yang aku takutkan…”

”Nah, benarkan. abang bercakap soal  poligami karana rasa takut dan khuatir. Akhirnya, Abang mengaku juga….”

Saya telah masuk ke dalam perangkap pemikiran isteri saya. Saya kini terdiam. Benar-benar terdiam. Seribu bahasa. Saya hanya menundukkan kepala pertanda menyerah.

”Abang, ”panggil isteri saya dengan senyum dan mata yang menawan. ”Saya ingin Abang secepatnya berpoligami. Saya ikhlas. Benar-benar ikhlas. Bahkan kalau abang tak boleh mencari wanita lain, saya bersedia mencarikannya.”

Saya memalingkan kepala saya ke wajahnya. Isteri saya tersenyum. Senyumnya begitu lembut. Saya membalasnya dengan pelukan hangat. Diam-diam hati saya berbunga-bunga. Gembira. Membayangkan ada wanita lain yang -tentu saja- lebih muda, lebih cantik, lebih bergetah, lebih segalanya dibanding isteri saya sekarang ini. Kegembiraan saya tak tertahankan….

”Abang! Bangun! Bangun, Bang! Mimpi apa ni? senyum-senyum kambing bagai. Ketawa sendiri lagi. mimpi kekasih lama ya ?” 


Cerita ini dikongsikan semula dari portal ruangmuslimah.com

4 comments: